Minggu, Agustus 31, 2008

Malu aku malu

Krisis listrik memang benar-benar membuat kita merasa resah dan gelisah. Seperti lagunya Obbie Messakh, “Malu aku malu, pada negara lain. Karna listriknya, disana tak pernah mati.., sedangkan disini, menatap lilin, menanti terang jawabku..”

Perubahan yang terjadi sekarang ini, terutama dalam hal ini menuntut kita untuk pandai-pandai memanajemen-kan waktu. Karena kita harus merubah dan mencari aktivitas apa yang harus dilakukan. Ibaratnya, ketika proses pemadaman berlangsung, jika tidak kreatif maka waktu produktif kita akan berkurang. Terutama bagi anda yang bekerja dengan mengandalkan listrik, sama halnya seperti saya, yang kuliah sambil bekerja sebagai tukang ketik di sebuah rental komputer. Karena tidak sanggup membeli genset, maka otomatis harus pandai mengatur waktu kalau ada kerjaan. Selain itu karena PLN juga tidak memiliki kepastian tentang jadwal mati lampu bergiliran ini. Kadang-kadang sekali 3 jam, kadang-kadang 6 jam, dan kadang-kadang baru hidup mati lagi.

Benar-benar sulit ditebak, apa maksud dari semua ini. Seolah sebuah realita yang sangat luar biasa. Karena kita semua tahu bahwa listrik adalah sebuah kebutuhan yang tidak bisa ditawar-tawar bagi kita semua. Ratusan juta warga di Indonesia membutuhkan listrik, sungguh tidak terbayangkan.

Pendapat yang ditemukanpun sungguh kontroversial, membingungkan, mengerikan, semuanya sepertinya memiliki pendapat serta argumentasi yang berbeda-beda. Meskipun di berita kita dapat melihat bahwa semua ini akan pulih dengan proses dan waktu yang masih sangat panjang. Kalau iya seperti itu, apakah di hari-hari kemarin tidak terfikirkan tentang itu. Sebuah perusahaan biasanya telah memikirkan, setidaknya merencakan untuk mengantisipasi jika seandainya terjadi hal-hal yang diinginkan, minimal telah menyediakan biaya maintenance.

Berapa banyak kerugian dari semua ini, meskipun saya tidak tahu pasti. Tapi sebagai rakyat kecil kita semua memiliki hak, hak untuk hidup layak. Tapi bukan berarti kita manja, manja karena harus mendapatkan listrik layak. Tapi listrik merupakan sebuah fasilitas yang harus disediakan oleh suatu Negara demi pembangunan (termasuk ekonomi) Negara tersebut. Kok jadi sewot saya ya?!

Serba salah. Yang susah jadi tambah susah, yang senang jadi tambah senang. Tapi biarlah, yang terpenting Allah selalu melindungi kita semua, terutama selalu melindungi warga Padang dan diberikan ketabahan atas kejadian ini. Semua ini saya yakin ada hikmahnya. Semoga PLN tidak lama-lama ngambeknya, agar bangsa Indonesia tidak menjadi omongan bangsa lain. Amin..

Sabtu, Agustus 30, 2008

Selamat menunaikan ibadah puasa

Waktu yang berjalan memang tidak terasa. Rasanya baru kemarin kita melewatinya, dan ternyata Bulan Penuh Berkah telah berada di ambang pintu dan siap untuk berkunjung bertamu menyapa semua manusia, khususnya bagi Umat Islam.


Meskipun saya seorang yang baru belajar, ngeblog khususnya. Tapi secara pribadi saya mohon maaf jika ada salah. Mungkin ketika bercanda, ngobrol secara langsung atau di chatting, atau lainnya yang kurang berkenan. Tidak lupa untuk seorang teman saya sekaligus kakak bagi saya, Dhani, Mangkutak, yang telah banyak memberikan saya masukan tentang ngeblog serta tentang kehidupan ini.


Dengan berbangga, marilah kita ucapkan Marhaban Ya Ramadhan. Selamat datang Bulan Ramadhan. Semoga semua amal kita di terima olehNya dan tetap menjadi seorang yang beriman sesudahnya. Amin

Maaf, saya juga orang baru

Si Bejah adalah seorang anak desa yang menginginkan perubahan, terutama perubahan dengan finansialnya. Ketika si Paijo (salah seorang temannya) pulang kampung, maka si Bejah merasa iri dan ingin mengikuti jejak temannya itu yang telah berhasil merubah keadaan finansialnya di kota metropolitan. Melihat pakaian Paijo yang full-style, Bejah menanyakan ke Paijo, “Jo, baju kamu keren amat ya. Belinya dimana Jo?”. Paijo pun menjawab, “Kenapa nanya-nanya?! Kamu nggak bakalan sanggup beli baju ini, mahal!, aku beli baju ini di Matahari Jakarta”. “Ooo..”, Bejah pun menjawab.

Melihat keadaan Paijo, si Bejah membulatkan tekad untuk pergi merantau ke Jakarta untuk bekerja dan merubah nasibnya.

Beberapa hari kemudian, si Bejah pun pergi merantau ke Jakarta. Sesampainya di Jakarta, hidupnya sangat tidak menentu, karena dia memang tidak punya teman ataupun saudara disana. dan Alhamdulillah-nya 4 hari keberadaan dia disana, Bejah pun mendapatkan pekerjaan sebagai seorang tukang kebun di perumahan yang banyak premannya.

Seminggu Bejah bekerja, juragannya memberikan sedikit gajinya ke Bejah. Kemudian si Bejah teringat dengan baju Paijo, dan ia pun berniat membelinya.

Dalam perjalanan ketika hendak membeli baju, Bejah tersesat di sebuah jalan buntu. Di jalan tersebut Bejah bertemu dengan seorang pria. Karena Bejah sedang tersesat, maka si Bejah mencoba bertanya pada pria tersebut, dan terjadilah dialog kecil.

Bejah : Maaf mas, nama saya bejah. Saya bekerja sebagai tukang kebun di komplek sebelah mas. Saya baru beberapa hari ke sini mas.

Pria : (Sambil membelalakkan mata) Maksud loe apaan seh?

Bejah : Saya mau nanya mas

Pria: Iya………!!! Nanya apaan sih, cepet donk, gue lagi berat nih!

Bejah : Ini mas. Saya punya teman di kampung namanya Paijo. Saya ngeliat baju yang dia pakai bagus mas.. (kemudian pembicaraan langsung di potong oleh pria tersebut)

Pria : Cepet!!! Loe ngomong jangan bertele-tele gitu dah!! Gue jedotin loe nih!!

Bejah : (Dengan muka ketakutan) Ampun mas, ampun. Saya cuma mau nanya, Matahari dimana disini ya mas??

Pria : Oooo.. Loe Cuma nanya itu, Cuma nanya matahari dimana?!?!

Bejah : Iya mas. Matahari dimana ya mas??

Pria : Maaf bro.., saya juga baru disini…

Jumat, Agustus 29, 2008

Postingan tengah malam

Ternyata untuk bisa mengerti dan memahai segala sesuatu itu membutuhkan keberanian. keberanian untuk belajar, dan juga keberanian untuk mencoba-coba. Berhubung saya masih tahap belajar, tapi ternyata jika punya kemauan, ternyata seakan mudah. Selain itu, berhubung Andi mau menyisihkan waktunya untuk mengajarkan saya satu persatu tentang arti dari menu-menu yang ada di blogger, saya jadi tambah semangat. Yang sangat disyukuri adalah, perlahan saya bisa mengerti sedikit-sedikit dari menu-menu di blogger.


Banyak orang mengatakan, ‘teman adalah tempat untuk saling berbagi, dan tanpa teman hidup serasa hampa’. Begitu juga dengan blog ini, meskipun terlihat apa adanya, tapi sampai saat ini untung ada yang kasih semangat untuk saya. Terima kasih banyak uda Andi. Dari saya tidak tahu dan bingung, dan sekarang secara perlahan saya bisa mengerti. Dari cara memasukkan histats, kotak pesan, sampai menjelaskan kegunaan dari menu-menu yang ada di blogger.


Hanya itu, karena sudah malam saatnya untuk pulang dan mimpi indah.

Kamis, Agustus 28, 2008

Mimpi dan ide gila aku

Akibat seringnya mati lampu di kota padang akhir-akhir ini, sepertinya kita sendiri yang harus mencari solusi ketika menghadapi mati lampu. Karena dampak dari mati lampu tersebut saya yakin dapat menimbulkan kerugian, terutama bagi anda yang beraktivitas atau memiliki usaha yang bergantung dengan listrik, dan minimal kekesalan bagi anda yang sering terkena pemadaman bergilir. Karena bagaimanapun, suatu problema tidak akan selesai jika tidak kita sendiri yang segera menyelesaikannya, minimal menemukan bagaimana solusinya.


Solusi yang tepat untuk mengantisipasi pemadaman listrik bergilir adalah dengan menggunakan genset. Dengan menggunakan genset, anda dapat terus beraktivitas (baik pekerjaan ataupun aktivitas dalam bisnis anda). Meskipun itu anda diharuskan mengeluarkan sejumlah dana untuk bisa memiliki sebuah genset, tapi kalau dipikir-pikir, daripada rugi terus, lebih baik anda menyisihkan uang kas untuk membeli peralatan operasional tersebut. untuk Saat ini, sepertinya hanya gensetlah yang bisa menjadi alternatif atau solusi ketika anda sedang mendapatkan mati lampu bergiliran.


Mengingat hanya satu alternatif tersebut, ketika mati lampu kemarin, saya jadi terfikir “Bagaimana caranya untuk kedepannya agar saya tidak ketergantungan dengan kondisi seperti yang terjadi akhir-akhir ini?!”. Berhubung kondisi sepi (maklum, namanya juga mati lampu), berkeliaranlah pemikiran-pemikiran gila saya untuk meskipun hanya sebatas “Ide Gila”. “Bagaimana caranya agar kedepannya saya bisa memproduksi listrik sendiri?!?”.


Kalau difikir-fikir, saya memang tidak berkompeten di bidang ini. Tapi saya yakin, jika mengumpulkan data-data dan informasi tentang apa saja & bagaimana untuk bisa memproduksi listrik, saya optimis, minimal bisa untuk menghindari hal-hal seperti ini. Dan ketika saya tanyakan dengan teman saya yang saya kategorikan cukup berkompeten di bidang ini, lalu dia bilang, “Gila kamu, emangnya dananya dikit apa mau bikin kaya’ gituan, belum lagi untuk maintenance-nya. Emang kamu anak konglomerat apa?!”


Mendengar ucapannya, seketika saya langsung meluluh lantahkan “Ide Gila” tersebut. Tapi, bukan berarti keinginan saya tentang ini berakhir begitu saja. Jika terus belajar, mengumpulkan informasi/data-data, serta berusaha, segalanya Insya Allah bisa. Karena kan kita tahu, bahwa semua itu berawal dari sebuah idea tau jua sebuah mimpi. Semoga bisa ketemu alternatif-nya ah.. Minimal, untuk rumah saya sendiri nanti ketika saya sudah berkeluarga. Hahaha, jauh amat pemikiran saya jadinya.

Minggu, Agustus 24, 2008

Salah siapa?!

Ketika saya berhenti menunggu traffic light berubah menjadi hijau, seorang ibu-ibu separuh baya dengan pakaian lusuh dan menggendong seorang anak kecil, mendekati saya dan berkata, “Sedekahlah nak…”. Beberapa hari kemudian, dengan keadaan yang sama (namun di simpang yang berbeda) saya melihat kembali kejadian tersebut, namun pengemis-nya adalah seorang anak kecil.


Kejadian seperti itu bukan hanya terjadi di tempat saya saja, tapi pemandangan tersebut sepertinya sudah menjadi hal yang biasa di setiap perempatan, terutama di kawasan traffic light. Mereka semua hanya dapat meng-iba dengan berharap kebaikan dari setiap orang yang ditemuinya. Kalaupun kita juga merasa iba, tapi mau gimana lagi, apalah daya tangan tak sampai. Keadaan ekonomi membuat mereka seperti itu, sehingga satu persatu pengemis bisa semakin meningkat jika pemerintah setempat tidak cepat menanggapi hal ini.


Teringat dengan sebuah acara di TV yang mengamati dan mengungkap tentang mereka (para pengemis), ternyata sebagian diantara mereka memiliki sebuah sindikat, sederhananya ada seseorang yang mengorganisir untuk melakukan hal tersebut. Dan yang sangat disayangkan, kebanyakan dari mereka adalah anak-anak. Dimulai dari pagi hari hingga sore hari, dan bahkan sampai larut malam. Melihat hal tersebut, yang seharusnya mereka dapat bermain dan sekolah, tapi justru mereka harus melewati hari-harinya dengan kerasnya kehidupan di jalan. Resiko yang mereka hadapi juga cukup besar, seperti terkena imbas kejahatan, kecelakaan, serta telah mengganggu ketertiban umum, karena mereka biasanya berada pada kawasan jalan raya yang penuh dengan kendaraan yang lalu lalang.


Jika calon penerus bangsa harus berteman dengan kerasnya kehidupan di jalanan, sedikit banyaknya psikologis mereka akan menyatu dengan kerasnya kehidupan jalanan sehingga mereka pun akan memiliki karakter yang keras. Efek itu saya yakin anda bisa menggambarkannya sendiri, atau minimal anda bisa membayangkannya. Jika dilihat dari kacamata masing-masing, “Adilkah ini bagi mereka??”, atau “Siapakah yang harus disalahkan??”

Sabtu, Agustus 23, 2008

Ramadhan di ambang pintu

Ternyata waktu berjalan tidak terasa. Perlahan tapi pasti, dan selain itu sang waktu berjalan juga tanpa mengenal kompromi. Saya merasa baru kemarin kita melalui Ramadhan, dan ternyata sekarang bulan yang penuh berkah dan ampunan ini sudah diambang pintu.


Sebelum datangnya Ramadhan, alangkah lebih baik jika kita mengintrospeksi kembali, apakah ibadah puasa kita besok benar-benar dilakukan dengan ikhlas. Kita bisa memaklumi, bahwa manusia adalah gudangnya salah dan khilaf. Siapa tahu, ketika puasa tahun kemarin kita masih melakukannya kurang maksimal. Dan sebelum Ramadhan tiba, niatkan dan kuatkan hati. Jika anda ingin mendapatkan rahmat, hidayah, serta berkahNya, inilah kesempatan terbesar untuk kita!

Jumat, Agustus 22, 2008

Berteman dengan gelap

Akhir-akhir ini kota padang sudah tidak asing lagi dengan kegelapan. Meskipun itu bisa dimanfaatkan untuk introspeksi diri, tapi kalau keseringan ya lama-lama bosan juga. Tidak tahu sampai kapan mati lampu bergilir terjadi di kota Padang. Tapi saya yakin sekali bahwa banyak diantara kita yang merasakan dampaknya, terutama dampak negatif.


Kenapa saya mengatakan banyak dampak negative?! Karena kita bisa melihat kejadian-kejadian yang dapat beresiko mendatangkan kerugian. Misalnya seperti kerusakan barang elektronik, karena sering mati hidup mati hidup. Resiko kebakaran, disebabkan karena lilin. Dan saya ‘Kaum Minoritas’, yang sangat disayangkan adalah nasib para pengusaha yang mengandalkan listrik sebagai penggerak usaha mereka. Misalnya seperti warnet. Seperti kejadian kemarin, ketika saya baru asyik browsing, eh tiba-tiba listrik mati, dan ketika saya tanyakan dengan pihak operator warnet di tempat saya main tersebut, dia mengakui bahwa omsetnya sangat turun drastis. Kasian bukan..?


Semoga pemerintah dapat cepat tanggap dalam menangani krisis listrik yang terparah (menurut saya) saat ini. Karena mandate dari pemerintah sedikit banyaknya akan mempengaruhi kesigapan PLN dalam menangani hal ini. Nggak tahu ah…, bosen ngomongin mati lampu. Karena beberapa teman saya selalu bicara tentang mati lampu, mati lampu, mati lampu, dan mati lampu lagi. seolah kita sebagai masyarakat sudah tidak percaya lagi dengan perusahaan Negara (terutama yang bermain tunggal/monopoli). Semoga Allah mendengar dan mengabulkan jeritan kita sebagai Kaum Minoritas. Amin…


Ayo Padang, meskipun Kota Padang sering gelap, tapi saya tetap cinta dengan Kota Padang.

Kamis, Agustus 21, 2008

Tulisan pertama

Selamat datang di blog ini. Berhubung masih dalam proses belajar, tapi saya ingin bisa seperti teman-teman yang lainnya. Bisa ngeblog! Selain itu terima kasih saya ucapkan kepada salah seorang teman saya yang rela mengajarkan saya (sampai marah-marah) dan memberikan saya sedikit demi sedikit penejelasan tentang cara bikin blog.


Blog Anak Minang ini ingin saya jadikan sebagai tempat untuk menuangkan realita serta keadaan diantara kehidupan yang kita jalani ini.